Mencermati Gaya Komunikasi Politisi Muda, Oleh : Gunawan Witjaksana.

Mencermati Gaya Komunikasi Politisi Muda, Oleh : Gunawan Witjaksana.
,Foto : Drs. Gunawan Witjaksana , M.Si Dosen Ilmu Komunikasi USM

Suaracaraka.com, Semarang Jawa Tengah – Cukup menggembirakan sekaligus melegakan, ternyata mulai banyak anak muda yang memasuki dunia politik, utamanya politik praktis.
Yang cukup menarik rata- rata alasan mereka adalah bahwa dengan masuk ke dunia politik praktis, maka mereka akan bisa turut mewarnai perpolitikan lokal, regional, hingga nasional, sekaligus hal itu lebih efektif dibanding dengan hanya melaksanakan demo, yang sering aspirasinya hanya mudah hilang tanpa bekas.
Bila kita cermati saat ini setidaknya ada beberapa anak muda yang bisa kita ambil contoh, yaitu Gibran Rakabuming Raka, Boby Nasution, Kaesang Pangarep yang ketiganya masih keluarga Presiden.
Ada juga Zenidine Alam Ganjar sang putra mantan Gubernur Jateng yang juga salah satu Calon Presiden yang mulai diindors media dan pengamat, serta Seno Bagaskoro yang merupakan salah satu anggota tim sukses Ganjar Pranowo.
Selain itu, tentu ada sejumlah nama lain yang setidaknya aktif baik di partai politik(parpol) , serta kegiatan politik lainnya, yang setidaknya mulai memopulerkan nama- nama mereka.
Bila kita cermati, di antara para anak muda itu ada yang keluarga pejabat, sehingga ada sebagian yang berpendapat bahwa sukses mereka karena adanya previlage orang tuanya, bahkan ada yang mengakitkannya dengan politik dinasti yang instan dan karbitan.
Pandangan subyektif semacam itu sah- sah saja, namun yang terpenting dan perlu kita tunggu adalah bagaimana anak- anak muda tersebut nantinya mampu menunjukkan prestasi sekaligus kinerjanya.
Pertanyaannya, akankah minat anak muda masuk dunia politik praktis ini akan terus berlanjut?, serta akankah gaya komunikasi politik serta kinerjanya nanti akan mampu mendorong anak muda lainnya untuk mengikutinya?

Pergeseran Pola
Salah satu contoh yang saya sebutkan di atas yaitu Seno Bagaskoro misalnya, ternyata dia yang masih berstatus mahasiswa tersebut bukanlah keluarga pejabat.
Menurutnya, dia masuk ke dunia politik praktis dan sekarang menjadi salah satu anggota timses Ganjar, karena memandang cara tersebut lebih mampu menunjukkan kontribusi nyata kepada masyarakat, bangsa dan negara utamanya bila kelak jago yang didukungnya tersebut menang dan berkontribusi maksimal dalam memajukan bangsa serta menyejahterakan masyarakat.
Menurutnya, dengan memanfaatkan teknologi informasi yang makin canggih, dia dan kelompoknya akan mampu memberikan pencerahan kepada masyarakat luas, sehingga harapannya masyarakat akan mampu memilih calon yang paling mampu mewujudkan Indonesia maju di tahun 2045 yang akan datang.
Cita- cita yang tentu pantas diapresiasi , karena setidaknya akan mampu mengurangi resiko bila dilakukan dengan berdemo besar- besaran sekalipun, yang tentu akan mudah disusupi serta disalahgunakan Anasir yang tidak bertanggung jawab.
Dengan kecerdasan yang dimilikinya, dibarengi dengan bahasa komunikasi yang santun, jelas, persuasif, informatif, tanpa mendiskreditkan pihak lain, tampaknya apa yang disampaikannya ini patut diapresiasi.
Demikian pula buah pemikiran Alam Ganjar pun cukup menggetarkan hati karena ada anak muda yang berfikir cemerlang, meski memang yang bersangkutan belum ikut masuk ke dunia politik praktis.

Gaung Kinerja
Dengan mencoba berfikir jernih serta akademis, menarik pula mencermati Gibran, Bobby serta Kaesang.
Ketiganya sering disudutkan dengan sebutan politik dinasti. Namun bagi Gibran dan Bobby, sebenarnya mereka terpilih menjadi Walikota langsung oleh rakyat, yang saat pemilihan kemungkinan bisa tidak terpilih juga, meski harus diakui popularitasnya mungkin terbantu oleh orang tuanya.
Di sisi lain, Kaesang yang prosesnya terkesan sangat mendadak dan terlalu cepat, harus sangat dimaklumi bila ada sejumlah kalangan yang beropini negatif.
Namun, dari sisi obyektif, sangatlah tidak bijaksana bila kita hanya menilai mereka secara subyektif asumtif, dengan mengabaikan apa yang sudah mereka lakukan dan setelahnya, atau yang akan mereka mampu lakukan di masa yang akan datang.
Bagi Gibran, prestasinya memimpin Solo sangat banyak diapresiasi. Demikian pula dengan beberapa hal positif yang telah dilakukan Bobby.
Bagi Kaesang, akan lebih baik kita menunggu realisasi janjinya untuk menjadikan partainya yang jauh lebih baik serta bermanfaat bagi masyarakat, sekaligus, cita- citanya membawa partainya masuk ke Senayan. Kita baru bisa memberikan apresiasi atau evaluasi tentu setelah dia bekerja dan kita lihat kinerjanya.
Kita tentu ingat prinsip komunikasi, work says laughder than words( kinerja bergaung lebih nyaring dibanding wacana).
Karena itu, sangatlah Arif serta bijaksana kita menunggu kinerja mereka yang mudah- mudahan sesuai harapan masyarakat. Dengan demikian ke depan diharapkan akan banyak kaum muda yang aktif di dunia politik, sehingga perpolitikan yang cerdas, santun serta bermanfaat akan benar- benar terwujud.

Penulis,
Drs. Gunawan Witjaksana , M.Si
Dosen Ilmu Komunikasi USM

Editor : Hedy Rahmad, MH.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *