Plus Minus Sarjana Tanpa Skripsi, Oleh Gunawan Witjaksana

Plus Minus Sarjana Tanpa Skripsi, Oleh Gunawan Witjaksana
Foto : Drs. H. Gunawan Witjaksana, M.Si Dosen Ilmu Komunikasi USM

Suaracaraka.com, Semarang Jawa Tengah – Permendikbudristek no. 53 tahun 2023 tidak lagi mewajibkan dibuatnya skripsi sebagai salah satu syarat Tugas Akhir, untuk bisa lulus sebagai sarjana baik S1 atau pun D 4.
Meski demikian, Mendikbudristek menyerahkan kepada Perguruan Tinggi ( PT) khususnya Ketua Jurusan, apakah calon lulusannya tetap diharuskan menyusun skripsi atau tugas lain yang nilai kompetensinya sama.
Sebenarnya hal tersebut bukannya hal yang baru. Karena sebelumnya telah dilakukan oleh sejumlah PT, yang memberikan dua alternatif, yaitu tetap menyusun skripsi atau karya tertentu yang bobotnya sesuai, dan karya tersebut harus dikoreksi oleh mereka yang kompeten, misalnya untuk jurusan komunikasi ada karya Iklan, Public Relations, dan sebagainya.
Namun, dalam prakteknya, khususnya bagi mahasiswa non teknik, menyusun skripsi masih lebih banyak dilakukan, mengingat baik landasan teori yang digunakan, metode penelitian yang digunakan, serta kepembimbingannya dengan lebih mudah dilakukan oleh para dosen yang sesuai dengan kompetensinya. Ini sangat berbeda dibandingkan dengan membuat karya lain yang kepembimbingan serta koreksinya harus dilakukan oleh para ahli di luar kampusnya.
Pertanyaannya, benarkah kebijakan baru tersebut akan lebih meringankan mahasiswa, atau justru sebaliknya? Bagaimana sebaiknya PT, khususnya Jurusan menyikapinya, mengingat akhirnya kebijakan tersebut dikembalikan ke PT dalam implementasinya?

Skripsi dan Kompetensi
Sebenarnya agak kurang tepat pandangan bila lulusan yang menyusun skripsi akan mempengaruhi kompetensinya secara penuh setelah lulus. Demikian pula sebaliknya bila tidak menyusun skripsi.
Skripsi yang bobotnya hanya 6 SKS, tidak mungkin menjadi tolok ukur mahasiswa yang menempuh 144 atau 145 SKS.
Karena itu, di halaman depan skripsi pun telah dijelaskan tujuannya yaitu, ” memenuhi sebagian persyaratan guna meraih gelar sarjana………dst”. Dari penjelasan itu jelas disebutkan bahwa skripsi itu hanya merupakan merupakan sebagian persyaratan, termasuk tentunya pengaruhnya terhadap kompetensinya setelah lulus.
Mungkin untuk sarjana terapan, tugas akhir berupa karya itu lebih tepat. Namun bagi sarjana S1 , skripsi masih sangat diperlukan, bukan hanya pada mereka yang akan kerja di bidang R&D, namun di bidang lainpun diperlukan, utamanya agar bisa memahami secara baik hasil-hasil penelitian atau pun kajian yang terkait dengan tugas, bahkan kewirausahaan yang sedang mereka geluti.
Singkatnya, melakukan penelitian dalam menyusun skripsi sangat diperlukan, utamanya guna memfokuskan pada sebagian teori serta metodologi penelitian yang mereka gunakan.

Penyesuaian
Mungkin, bagi mereka yang menganggap skripsi menghambat, karena ada sebagian pembimbing yang agak terlalu tinggi mererapkan standard atau sebaliknya mahasiswa yang kurang getol berupaya atau cari mudahnya saja.
Karena itu , penelitian yang dilakukan sebaiknya disesuaikan dengan jenjangnya. Yang terpenting lebih fokus pada bidang yang paling diminati, serta didukung dengan metode penelitian yang tepat, sehingga setelah lulus mereka setidaknya mampu memahami sebuah hasil penelitian serta kajian tertentu sesuai ilmu yang ditekuninya.
Kita tentu tidak ingin para calon sarjana yang tersesatkan dengan menganggap hasil survei dibayar, padahal survei itu dilakukan oleh hampir semua lembaga yang kredibel. Kita tentu juga kurang nyaman bila lulusan kita lebih banyak berfikir berdasarkan asumsi subyektif yang kurang pas, tanpa mau melihat serta mengacu pada berbagai data akurat yang dengan kecanggihan teknologi informasi banyak tersedia, sekaligus telah teruji validitasnya, sehingga sangat mudah kita mengaksesnya.
Toh sesuai dengan kurikulum merdeka belajar, mereka bisa memilih sesuatu yang paling diminatinya, serta melengkapi dengan berbagai kegiatan lain yang mudah-mudahan akan menambah kompetensinya setelah lulus.

Drs. Gunawan Witjaksana, M.Si
Dosen Ilmu Komunikasi USM

Editor : Hedy Rahmad, MH.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *