Suaracaraka.com, Jakarta – Pagi itu Hari Minggu, 20 Agustus 2023 menjadi puncak atas lelahku, atau bahkan kebuntuan dari hari- hariku selama 6 tahun terakhir mengurus surat-surat tanah asset peninggalan suami tercinta Marsda TNI (Purn) Iwan Sidi. Ada beberapa surat tanah yang harus diurus status kepemilikannya sebagai bentuk tanggungjawabku menjaga amanah yang susah payah diperoleh oleh almarhum suami dari hasil keringat selama bertahun- tahun.
Di usiaku yang mendekati 70 tahun, dengan raga yang tak prima lagi semua kuurus sendiri. Benar-benar sendiri tanpa jasa notaris apalagi calo. Belajar dari bawah semua hal mengenai pengurusan tanah, bisa dibilang sampai “nglothok” semua tahapan prosedural yang telah kulalui itu. Tak terbayang betapa rumit, ruwet, bahkan ada arsip tanah yang di katakan tidak di ketemukan, rumah dan tanah sudah mau di dudukin orang dan banyak lagi, melibatkan banyak pihak dan kompleksnya pengurusan surat tanah di negri tercinta ini. Ya betul saya mengalaminya sendiri, Surat – surat tanah dari berbagai pelosok daerah sudah pernah saya tempuh. Ada beberapa yang lancar tapi banyak juga yang molor dan bikin cadangan kesabaran setahun menguap dalamsehari.
Hari itu meskipun sudah menjadi rutinitas saya berziarah ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, tempat almarhum suami disemayamkan entah kenapa hari Minggu pagi itu terasa berbeda. Sambil bersimpuh kutumpahkan keluh kesahku di depan pusara sekedar meringankan kebuntuan pikiran sembari mengirimkan doa ke langit. Pikiranku semwarut.
Masih di Taman makam Pahlawan Kalibata dimana almarhum suami tercinta dimakamkan, Saat melewati makam almarhumah ibu Ainun dan Almarhum Bapak Bj. Habibie Serta Ibu almarhumah Ani Yudoyono dan almarhum bpk.Taufiq Kiemas saya menyempatkan diri berhenti demi memanjatkan doa, dan pengharapanku kepada Alloh SWT. Semoga arwah beliau – beliau tenang, damai, bahagia di sisiNYya. Di saat itulah Sesosok lelaki mungkin usianya sekitar kurang lebih 50 tahun menanyaiku sedang apa aku disini. Ya maklum saja penampilanku mungkin tidak seperti mantan istri jendral bintang dua. Berikutnya kujelaskan bahwa almarhum bapak Iwan Sidi suamiku, adalah mantan ajudan bapak Try Sutrisno dan juga Bapak BJ. Habibie. Panjang lebar saya ceritakan perjalanan hidup kami dan karir alm Suami. Yang berdinas sebagai ajudan bersama dengan : Bpk.TB Hasanuddin / AD, Bapak Firman Gani/Polri, Bpk.Iwan Sidi /AU dan Bpk. Djuana/AL.
Singkat cerita beliau mengungkapkan jati dirinya adalah seorang anggota DPR RI. “ Perkenalkan saya Riyanta bu, saya anggota DPR RI komisi Dua membidangi pertanahan. Apakah ibu ada permasalahan jika ada apa ada yang bisa saya bantu ..??
begitu ungkapnya mengawali perkenalan kami. Seketika merinding rasanya seluruh badan ini mendengar kata-kata beliau, ditengah semua persoalan yang mendera akhir-akhir ini seolah iniadalah pertolongan dari Langit yang bahkan terbayangkan pun tidak.
Setelah berbincang sebentar bapak anggota DPR ini bertanya lagi, “Ibu apa yang bisa saya bantu?!”. Pucuk dicinta ulam tiba, saat itu juga kutumpahkan semua permasalahanku terutama surat tanah yang selama ini menghantuiku. Sudah hampir dua tahun prosesnya mandek, sejengkal tanah di desa Pasirsari, Pasir Tanjung Cariu, Cilengsi Bogor. Berkilometer dari rumahku yang tiap dua minggu sekali harus kutempuh dengan sepeda motor membelah Jakarta hingga ke Bogor, yang akhirnya harus puas dengan jawaban seorang customer service BPN, “Masih proses bu, masih dimejakan bu” dan masih… masih… yang lain. Duuh ingin teriak. Tapi tentu tak sampai nyali, cukup dihati saja.
Singkat cerita bapak Riyanta SH, anggota DPR RI komisi II ini bertekad untuk membantu saya. “Ibu kapan ke BPN? Senin pak”, jawabku singkat. “Baik bu, nanti kalau ibu sudah di kantor BPN whatsapp saya dan nanti angkat telepon saya”.
Benar saja, Senin 21 Agustus 2023 pagi, saya sudah didepan satpam untuk membuat janji ketemu dengan Kepala BPN setempat. “Atas rekomendasi siapa Ibu akan bertemu dengan bapak Kepala BPN?” tanya satpam mengawali pembicaraan. “Rekomendasi dari Bapak Riyanta SH anggota DPR RI Komisi II”, terangku gamblang. Puas sekali mengatakan hal itu setelah hampir dua tahun ini langkahku mentok cuma sampai di depan jendela customer service, pikirku.
Tak lama menunggu saya dipersilakan masuk keruangan kepala BPN. “Silahkan masuk Bu, ada yang bisa saya bantu?” begitu sekilas sambutan ramah dari dalam ruangan tersebut. Belum sempat saya membuka mulut menjawabnya, ada panggilan masuk di ponsel yang saya genggam sedari tadi, dari pak Riyanta. Saya angkat, “Sambungkan juga dengan Pak kepala BPN-nya,
Panjang lebar kami bicara, akhirnya ditutuplah pertemuan kami dengan kalimat yang selama dua tahun ini kutunggu. “Ibu, beri kami waktu satu minggu, insyaalloh selesai!” begitu janjinya. Plong sekali rasanya, secepat dan semudah itu seolah terangkat sudah beban yang selama ini kutanggung. Benar saja tepat satuminggu surat tanah pun selesai.
Saat pertemuan kami di TMP Kalibata, Bapak Riyanta menjelaskan bahwa ini adalah bagian dari Gerakan Jalan Lurus (GJL). Sebuah Gerakan untuk memangkas birokrasi dalam pengurusan surat pertanahan yangbanyak dikeluhkan oleh masyarakat.
“Ibu beruntung ketemu saya disini”, ucap pak Riyanta ditengah perbincangan kami saat di TMP Kalibata. “Karena nggak biasanya saya kesini, kebetulan tadi ziarah ke makam bapak Taufik Kiemas.
Ya, Minggu pagi 20 Agustus 2023 adalah hari Minggu yang tidak akan pernah saya lupakan. Tak terkira rasa terimakasih saya. Melalui sebuah gebrakan, Gerakan Jalan Lurus (GJL). Tetapi saya punya sebutan sendiri Ketika ditanya oleh rekan, sahabat, atau keluarga “Kok bisa cepat selesai suratnya, pakai jalur apa?” Saya jawab “Jalur Langit”.
Terimakasih Ya Robbku Karena kuasaMu saya telah Engkau pertemukan dengan orang yang baik dan tepat untuk menolongku.
Dari lubuk hati yang paling dalam, dengan segala kerendahan hati mengucapkan beribu terimakasih. Kami sekeluarga tentu tidak dapat membalas kebaikan bapak, doa kami semoga amal baik Bapak Riyanta SH dan keluarga mendapat balasan yang berlipat dari Alloh SWT.
Penulis: Ny. Budhiarti Iwan Sidi
Editor: Hedy Rahmad, M.H.