Berharap Pada Komunikasi Politik Emphatik

Oleh. : Gunawan Witjaksana.
Suaracaraka.com, Kota Semarang Jawa Tengah – Meski Pemilu tahun 2029 masih lama, namun melalui berbagai media, utamanya media sosial(medsos) , serasa telah sesak dipadati oleh pesan-pesan politik yang seolah saling salib, utamanya dalam mencari pembenaran masing-masing.
Kesannya kejadian atau peristiwa sekecil apa pun terkesan selalu di glorifikasi sedemikian rupa, dengan harapan masyarakat menaruh simpati pada kelompok atau pun organisasi politiknya masing- masing.
Mereka seolah melupakan, bahwa kemajuan teknologi informasi membuat masyarakat dengan sangat mudahnya memperbandingkan berbagai informasi mirip atau bahkan sama namun mengandung pembenarannya masing-masing.
Bagi yang sedang berkuasa, baik di pusat atau pun di daerah, mempublikasikan kinerja sesuai dengan UU No. 14 tahun 2002 tentang Keterbukaan Informasi, wajib hukumnya mempublikasikan hasil kerja yang menggunakan APBN atau pun APBD.
Karena itu tidak ada salahnya bila pemerintah pusat rajin mempublikasikan kinerjanya, meski kadang disalahartikan sebagai penyalahgunaan kekuasaan, padahal sebenarnya hal tersebut adalah memenuhi perintah Undang- Undang.
Tak jauh berbeda di wilayah tertentu yang Gubernurnya kelihatan lincah dan sigap, antara lain Maluku Utara, masyarakatnya tampak antusias dalam. Mengapresiasi kinerja Gubernurnys.
Dukungan Data
Karena itu, ke depan masing- penguasa harus makin rajin bekerja sesuai janji kampanyenya, sekaligus rajin menyapa serta mempublikasikan kinerjanya kepada seluruh masyarakat ataupun masyarakat daerah.
Selain itu, menggunakan komunikasi Emphatik disertai dukungan data yang akurat, terlebih bila disertai visualisasi hasil kerjanya secara jelas, akan mudah memperoleh simpati masyarakatnya.
Hal itulah ke depan yang perlu dilakukan, dibanding getol memberikan kritik yang tidak jarang terkesan membabi buta, terutama bila hanya didukung dengan asumsi- asumsi subyektif, tanpa dukungan data yang akurat.
Kita tentu ingat sebuah prinsip komunikasi yang mengatakan bahwa “kinerja akan berkata lebih nyaring dibanding wacana”.
Dengan demikian, bagi yang sedang berkuasa, mempublikasikan hasil kerjanya tentu lebih fungsional, dibanding terlalu banyak wacana, namun minim kinerja.
Karena itu mewujudkan janji kampanye yang dalam tataran abstrak menjadi hasil kerja yang dirasakan masyarakat, merupakan syarat mutlak, bila ingin memperoleh apresiasi, sekaligus simpati masyarakat.

Di Persembahkan Oleh :
Gunawan Witjaksana, Dosen Ilmu Komunikasi, Tinggal di Semarang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *