Tingkatkan Kewaspadaan DB dan TB, Puskesmas Bangetayu Gelar FGD Lintas Sektoral dengan Bangetayu Kulon

Tingkatkan Kewaspadaan DB dan TB, Puskesmas Bangetayu Gelar FGD Lintas Sektoral dengan Bangetayu Kulon

Suaracaraka.com, Semarang Jawa Tengah – Kasus Demam Berdarah [DB] dan Tuberkulosis [TB] masih menjadi persoalan kesehatan di wilayah Kota Semarang. Untuk menekan angka penularan, Puskesmas Bangetayu menggelar Focus Group Discussion [FGD] lintas sektoral bersama unsur kelurahan dan masyarakat di Aula Puskesmas Bangetayu, Kamis 16 Juli 2026.

Kegiatan ini dihadiri Lurah Bangetayu Kulon Eko Sri Utami, Kepala Puskesmas Bangetayu dr. Yuni Susanti, Ketua FKK dan PKK Mustiah, Ketua LPMK Kelurahan Bangetayu Kulon Hedy Rahmad, Kasi Kesos dan Sekretaris Kelurahan Bangetayu Kulon Faisal, serta Ketua RW 04 Riwanto, Ketua RW 02 Teguh Susanto dan perwakilan kader posyandu.

Dalam paparannya, dr. Yuni Susanti secara detail mengulas peta kasus DB dan TB di Kelurahan Bangetayu Kulon, Kecamatan Genuk. Wilayah Bangetayu Kulon terdiri dari 12 RW. Berdasarkan data surveilans Puskesmas, terdapat 3 wilayah yang masuk kategori rawan, yaitu RW 03, RW 04, dan RW 12.

“Faktor utama tingginya kasus di tiga RW tersebut adalah kelembaban tinggi akibat dampak banjir yang kerap terjadi. Genangan air menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti penyebab DBD. Sementara rumah dengan ventilasi kurang dan lembab meningkatkan risiko penularan TB,” jelas dr. Yuni.

Ia menambahkan, selain faktor lingkungan, rendahnya kesadaran masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk [PSN] 3M Plus dan deteksi dini TB juga menjadi tantangan. “Kami butuh peran aktif dari RT, RW, kader, hingga keluarga untuk memutus mata rantai penularan,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Kepala Puskesmas Bangetayu juga menyampaikan komitmen lembaganya dalam upaya penanggulangan infeksi DB dan Tuberkulosis. Komitmen tersebut meliputi penguatan surveilans jentik secara berkala, fogging fokus berbasis kasus, edukasi PHBS ke sekolah dan masyarakat, serta peningkatan keaktifan Posyandu sebagai garda terdepan deteksi dini.

“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Puskesmas siap menjadi motor penggerak, tapi harus didukung penuh oleh kelurahan dan seluruh elemen masyarakat. Posyandu harus diaktifkan kembali agar skrining kesehatan, terutama untuk ibu hamil, balita dan lansia, bisa berjalan optimal,” tegas dr. Yuni.

Sesi diskusi berlangsung interaktif. Para peserta menyampaikan kendala di lapangan mulai dari kesulitan mengajak warga ke Posyandu, masih ada rumah yang tidak mau diperiksa jentik, hingga stigma terhadap penderita TB.

Menanggapi hal tersebut, Ketua LPMK Kelurahan Bangetayu Kulon Hedy Rahmad mengusulkan dibentuknya komitmen bersama yang mengikat semua pihak, dengan Cara melakukan bukti nyata yakni penandatangan pakta integritas.

“Kami dari LPMK mengumpulkan aspirasi agar dibuatkan sebuah komitmen lintas sektoral bersama. Mulai dari Puskesmas, Lurah, LPMK, RW dan RT hingga kader Posyandu. Semua harus punya tugas pokok dan fungsi yang jelas. Dengan adanya komitmen tertulis dan ditandatangani bersama, kami yakin tingkat kesadaran masyarakat dalam menjalankan komitmen tersebut akan tercapai dengan maksimal,” kata Hedy.

Usulan itu mendapat dukungan penuh dari Lurah Bangetayu Kulon Eko Sri Utami. Ia menyatakan siap memfasilitasi penyusunan maklumat komitmen dan menjadikannya sebagai program prioritas kelurahan.

“Pemerintah kelurahan siap all out. Nanti kita buat SK Tim Gerak Cepat DB-TB tingkat kelurahan. RW 03, 04 dan 12 kita jadikan pilot project. Harapannya Bangetayu Kulon bisa segera bebas dari kasus DB dan TB,” ungkap Eko.

Senada, Ketua PKK Mustiah berkomitmen menggerakkan kader PKK dan FKK untuk kampanye masif PSN setiap Jumat. Sementara Ketua RW 04 Riwanto siap menjadi wilayah percontohan dengan jadwal kerja bakti dan pemantauan jentik rutin setiap minggu.

FGD ditutup dengan 3 poin kesepakatan. Pertama, pembentukan Tim Lintas Sektoral Penanggulangan DB-TB Kelurahan Bangetayu Kulon. Kedua, Rencana penyusunan dan penandatanganan Maklumat Komitmen Bersama oleh seluruh unsur. Ketiga, pelaksanaan kerja Bhakti dan pemantauan jentik serentak setiap hari Jum’at di wilayah rawan.

Dengan kolaborasi semua pihak, diharapkan Kelurahan Bangetayu Kulon dapat menekan angka DB dan TB, serta menjadi wilayah yang sehat, bersih, dan tangguh menghadapi penyakit menular.

Kegiatan FGD ini menjadi bukti bahwa penanganan masalah kesehatan tidak bisa parsial. Butuh sinergi antara tenaga kesehatan, pemerintah, lembaga masyarakat, dan warga untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas penyakit, ( Laporan Wartawan Edy Rahmad89 ).

Editor : Riwanto SS.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *